Willing To Be Better
“Tuhan memberi kita ujian macam-macam bentuknya. Kadang enak untuk diterima dan dijalani, atau sebaliknya sampai-sampai kita selalu ngedumel, protes, mengeluh, dan sebagainya. Inget ga, kapan terakhir kali kita bersujud untuk menceritakan kebahagiaan kita?”
Saya cuma bisa terdiam termenung sambil menatap layar ponsel setelah membaca SMS tersebut. Bukan karena menahan kantuk karena waktu sudah menunjukkan jam setengah tiga pagi, bukan juga karena marah karena dering ponsel yang mengganggu tidur saya. Saya tau saya harusnya berterima kasih. Dan juga bersyukur.
Saya tidak akan panjang lebar menceritakan segala keluh kesah saya. Saya tau kalian semua sudah bosan dengan itu ^_^ Saya juga tidak mau kalian menganggap bahwa setiap kali saya mulai menulis kembali, pasti ada masalah baru yang saya hadapi, atau paling tidak masalah-masalah lama yang sama skenarionya tapi berbeda pemerannya, seperti yang sudah kalian dengar berkali-kali dari mulut saya secara langsung, ataupun lewat sambungan jarak jauh yang pastinya sudah berkali-kali pula membuat kuping kalian panas karena terlalu lama menempel dengan ponsel. Terima kasih tak lupa tentunya kepada penemu Blackberry yang sanggup meminimalkan semua itu ya ^_^ Mendekatkan yang jauh dalam batas autotext, autopraise, dan kesemuanya diakhiri dengan BYE! :-p
Saya sadar, saya bukanlah hamba-Nya yang paling taat, paling patuh, ataupun juga paling bertaqwa. Saya tidak seperti @sigitadhi maupun @okitya yang dalam situasi seperti apapun dan dimanapun selalu menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat lima waktu.
Saya hanya bersujud menangis, menghamba, mengadu, dan meminta ketika ada suatu keperluan mendesak yang benar-benar memaksa saya untuk melakukan semua itu, berwudlu, mengenakan perangkat alat sholat (bukan mukena tentunya), dan kemudian dimulailah serangkaian gerakan dan bacaan yang disisipkan tetes air mata dan isak tersedu saya. Dan juga serangkaian memori tentang ibu saya.
Saya ditegur dengan cara-Nya yang paling halus.
Saya bukanlah orang yang ada di sinetron-sinteron ataupun reality show bertemakan Islami yang dalam waktu singkat seperti mendapat hidayah sehingga kemudian berubah haluan menjadi rohis berbaju koko, berpeci, dan bercelana bahan yang agak ngatung (sekali lagi bukan berjilbab dan bergamis, apalagi bercadar).
Saya juga untuk saat ini, belum mampu berjanji untuk meninggalkan dunia yang bisa dibilang telah membuat saya galau bertahun-tahu tanpa ada juntrungannya. Oh, please, you know what I mean, bitches…
Tidak juga ingin disebut sebagai resolusi, karena bila disebut demikian saya takut malah tidak akan berjalan baik, seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, resolusi yang berhasil diwujudkan adalah nihil sama sekali.
Pembaruan mungkin bisa lebih tepat. Memperbarui diri untuk sesuatu yang positif tidak buruk sama sekali kan? Apalagi dengan fakta kamu didukung sepenuhnya oleh sahabat-sahabatmu. Bahkan seorang @amiecun sanggup mengingatkan saya untuk menunaikan sholat Maghrib, meski itu dilakukan lewat twitternya. Bayangkan bagaimana kemajuan teknologi sanggup memberi pengaruh baik untuk dirimu dan sekitarmu! ^_^
Jadi, buat kamu, kamu, dan kamu (nunjuk-nunjuk a la Jennifer Hudson nyanyi And I’m Telling You I’m Not Going), bersiaplah untuk bertemu dengan saya yang baru. Entah apapun itu bentuknya, mohon bantuannya untuk terus mengingatkan saya. Kalopun saya nantinya tidak menggubris, maklumi saja bahwa itu merupakan bagian dari proses-proses dan fase-fase yang harus saya hadapi untuk menjadi lebih baik ya ^_^
Tuhan, saya pasrahkan diri saya menjadi bintang utama dalam skenario terbaik-Mu.
16 Januari 2012 pada 3:45 pm
butuh suasana yang sunyi …biar bisa konsentrasi