Willing To Be Better

Posted in Sekedar Curhatan, Sekedar Racauan on 12 Januari 2012 by Natta

“Tuhan memberi kita ujian macam-macam bentuknya. Kadang enak untuk diterima dan dijalani, atau sebaliknya sampai-sampai kita selalu ngedumel, protes, mengeluh, dan sebagainya. Inget ga, kapan terakhir kali kita bersujud untuk menceritakan kebahagiaan kita?”

Saya cuma bisa terdiam termenung sambil menatap layar ponsel setelah membaca SMS tersebut. Bukan karena menahan kantuk karena waktu sudah menunjukkan jam setengah tiga pagi, bukan juga karena marah karena dering ponsel yang mengganggu tidur saya. Saya tau saya harusnya berterima kasih. Dan juga bersyukur.

Saya tidak akan panjang lebar menceritakan segala keluh kesah saya. Saya tau kalian semua sudah bosan dengan itu ^_^ Saya juga tidak mau kalian menganggap bahwa setiap kali saya mulai menulis kembali, pasti ada masalah baru yang saya hadapi, atau paling tidak masalah-masalah lama yang sama skenarionya tapi berbeda pemerannya, seperti yang sudah kalian dengar berkali-kali dari mulut saya secara langsung, ataupun lewat sambungan jarak jauh yang pastinya sudah berkali-kali pula membuat kuping kalian panas karena terlalu lama menempel dengan ponsel. Terima kasih tak lupa tentunya kepada penemu Blackberry yang sanggup meminimalkan semua itu ya ^_^ Mendekatkan yang jauh dalam batas autotext, autopraise, dan kesemuanya diakhiri dengan BYE! :-p

Saya sadar, saya bukanlah hamba-Nya yang paling taat, paling patuh, ataupun juga paling bertaqwa. Saya tidak seperti @sigitadhi maupun @okitya yang dalam situasi seperti apapun dan dimanapun selalu menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat lima waktu.

Saya hanya bersujud menangis, menghamba, mengadu, dan meminta ketika ada suatu keperluan mendesak yang benar-benar memaksa saya untuk melakukan semua itu, berwudlu, mengenakan perangkat alat sholat (bukan mukena tentunya), dan kemudian dimulailah serangkaian gerakan dan bacaan yang disisipkan tetes air mata dan isak tersedu saya. Dan juga serangkaian memori tentang ibu saya.

Saya ditegur dengan cara-Nya yang paling halus.

Saya bukanlah orang yang ada di sinetron-sinteron ataupun reality show bertemakan Islami yang dalam waktu singkat seperti mendapat hidayah sehingga kemudian berubah haluan menjadi rohis berbaju koko, berpeci, dan bercelana bahan yang agak ngatung (sekali lagi bukan berjilbab dan bergamis, apalagi bercadar).

Saya juga untuk saat ini, belum mampu berjanji untuk meninggalkan dunia yang bisa dibilang telah membuat saya galau bertahun-tahu tanpa ada juntrungannya. Oh, please, you know what I mean, bitches…

Tidak juga ingin disebut sebagai resolusi, karena bila disebut demikian saya takut malah tidak akan berjalan baik, seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, resolusi yang berhasil diwujudkan adalah nihil sama sekali.

Pembaruan mungkin bisa lebih tepat. Memperbarui diri untuk sesuatu yang positif tidak buruk sama sekali kan? Apalagi dengan fakta kamu didukung sepenuhnya oleh sahabat-sahabatmu. Bahkan seorang @amiecun sanggup mengingatkan saya untuk menunaikan sholat Maghrib, meski itu dilakukan lewat twitternya. Bayangkan bagaimana kemajuan teknologi sanggup memberi pengaruh baik untuk dirimu dan sekitarmu! ^_^

Jadi, buat kamu, kamu, dan kamu (nunjuk-nunjuk a la Jennifer Hudson nyanyi And I’m Telling You I’m Not Going), bersiaplah untuk bertemu dengan saya yang baru. Entah apapun itu bentuknya, mohon bantuannya untuk terus mengingatkan saya. Kalopun saya nantinya tidak menggubris, maklumi saja bahwa itu merupakan bagian dari proses-proses dan fase-fase yang harus saya hadapi untuk menjadi lebih baik ya ^_^

Tuhan, saya pasrahkan diri saya menjadi bintang utama dalam skenario terbaik-Mu.

Pesan Untuk Masa Depan

Posted in Sekedar Racauan on 25 Maret 2011 by Natta

Kepada kamu,
orang yang suatu saat akan kucintai dengan sepenuh hati.

Pandai-pandailah berdamai dengan hatiku,
dan dengan dirimu sendiri…

Tersenyumlah

Posted in Sekedar Curhatan on 3 Februari 2011 by Natta

Kamu mungkin saja kehilangan seseorang,
Untuk kemudian bersedih,
dan bertanya-tanya apa kesalahanmu.

Tapi di lain sisi, kamu masih punya pilihan.
Untuk tetap tersenyum,
dan bertanya-tanya tentang hal baik apa yang menantimu di depan sana.

Natta’s On Tour De Land Of Srivijaya

Posted in Sekedar Gunjingan, Sekedar Ngegosip, Sekedar Racauan on 21 Januari 2011 by Natta

Daripada gw diajukan dengan pilihan-pilihan yang tak layak untuk dipilih seperti “Serangan Bibir” atau “Alis Naik Sebelah a la Simbok @sigitadhi” oleh Mpok @okitya, gw lebih memilih untuk posting secepatnya.

Sebenernya lagi males nulis-nulis sih, cuma emang warung ini kok udah lama banget hiatusnya, kasihan para penggemar Natta yang menantikan cerita-cerita baru nan menggemaskan dari sang empunya warung.
*bagi-bagi kresek **buat muntah

Jadi tanggal 3 Desember kemaren –Iya, basi… I know…– Tta ama Om Brudut, Ateu Irma, dan Acid –yang mukanya nanti dijelaskan lewat beberapa poto narsis di bawah– pergi ke Palembang buat piknik dan berleha-leha dateng ke kondangannya Teh Pey.

Jadi Aku ama Ombrud nyampe Palembang duluan sekitar jam7-an. Langsung ke Lokasi Hotel Aryaduta yang ada di bilangan Palembang Square. Sambil leha-leha menikmati fasilitas hotel bintang empat itu (udah kayak orang udik aja waktu tta masuk lobby nya), kami nungguin Ateu Irma sama Acid yang pesawatnya Delay. And guess what, pas mereka nyampe hotel jam 10-an gitu, kita berempat langsung cabs aja donk karaokean. Pas nya lagi di Palembang Square itu ada Inul Vizta nya. Deket banget tinggal ngesot dari hotel.

Okehh… kalo diceritain detail bakal lama, alias dah lupa juga di sana sempet ngapain aja… hihihihi… jadi mari kita putar kembali adegannya lewat beberapa gambar:

Ini poto-poto yang tta ambil pake hape, jadi katanya pempek SAGA yang terkenal itu ya di warung Sudi Mampir ini… tempatnya lumayan deket ama jembatan Ampera, pas di depan Kantor Walikota.
Eh, kecuali poto narsis yang di kanan bawah, itu diambil pake kameranya Ateu Irma (cardigan merah), dengan arahan sang potograper Acid (yang kaos biru, bukan kuning) pake timer gitu. Itu diambil di Lobby Hotel, sambil nungguin mobil sewaan dateng. Pertanyaannya, ke mana Om Brud kok ga ikutan poto?

Habis makan di sana, makan di sini, trus sempet mampir ke emol buat nemenin Om Brud ngabisin duit, akhirnya kita mampir ke Jembatan Ampera yang terkenal seantero Indonesia entu:

Merah, kuning, biru, di langit yang putih… –halah–
Pokoknya mau diliatin orang-orang (banyak yang bisik-bisik: “ihh.. itu ada artis dari mana? kok cakep-cakep ya?” –bukan sekedar delusional–), mau sambil ngegangguin orang pacaran –tuh, keliatan kan yang ikut keambil pas poto tta bareng Om Brud–, ga ada yang bisa menghentikan hasrat pepotoan kami…

Puas melaknati Ampera dengan berbagai pose, kami cuzz ke hotel buat siap-siap dandan ke kondangan. habis poles sana-sani, sradak-sruduk menembus gerimis, diteror ama @junica_saputri supaya buru-buru dateng ke gedung resepsi, berikut cuplikannya:

Pengantennya. Ngegemesin buangeeett kaann??? :)

Pengantennya. Ngegemesin buangeeett kaann??? :)

 

Abaikan gambar kanan bawah!

Abaikan gambar kanan bawah!

Habis cabut dari gedung, kita lanjut makan malem di Restoran Seafood Riverside. Resto dengan view langsung Jembatan Ampera di malam hari ini selidik punya selidik ternyata kepunyaannya Helmy Yahya sang presenter kondang alumni STAN itu (ini kata guide kami lho, kita sih percaya-percaya aja).
Tempatnya ciamik, dibangun di atas sungai, sebagian kawasan resto malah dibuat di atas sebuah kapal dua lantai. Ada live music nya, plus makanannya lazis. Pokoknya tempat ini cocok buat kalian-kalian yang mau ngegaet hati calon mertua ataupun mau ngejilat bos di kantor. Cekidot!

Oke pemirsa, dengan berakhirnya cuplikan di atas maka berakhir pula perjalanan kita di Bumi Sriwijaya ini, atas nama kapten penerbangan yang bertugas, kami mengucapkan terima kasih, semoga penerbangan ini menjadi penerbangan yang berkesan bagi anda.
Sampai jumpa pada penerbangan berikutnya.
Ciao~

I Am Special

Posted in Sekedar Nyenyong on 10 Desember 2010 by Natta

Lagi suka lagu ini gara-gara sering diputer jadi backsound intermezzo nya Star World. Ketemu juga lagunya abis googling. Trus nemu liriknya di sini. Silahkan dinikmati…

Hilary Duff – I Am

I’m an angel, I’m a devil
I am sometimes in between
I’m as bad it can get
And good as it can be
Sometimes I’m a million colors
Sometimes I’m black and white
I am all extremes
Try figure me out you never can
There’s so many things I am

I am special
I am beautiful
I am wonderful
And powerful
Unstoppable
Sometimes I’m miserable
Sometimes I’m pitiful
But that’s so typical of all the things I am

I’m someone filled with self-belief
And haunted by self-doubt
I’ve got all the answers
I’ve got nothing figured out
I like to be by myself
I hate to be alone
I’m up and I am down
But that’s part of the thrill
Part of the plan
Part of all of the things I am

I am special
I am beautiful
I am wonderful
And powerful
Unstoppable
Sometimes I’m miserable
Sometimes I’m pitiful
But that’s so typical of all the things I am

I’m a million contradictions
Sometimes I make no sense
Sometimes I’m perfect
Sometimes I’m a mess
Sometimes I’m not sure who I am

I am special
I am beautiful
I am wonderful
And powerful
Unstoppable
Sometimes I’m miserable
Sometimes I’m pitiful
But that’s so typical of all the things I am

I am special
I am beautiful
I am wonderful
And powerful
Unstoppable
Sometimes I’m miserable
Sometimes I’m pitiful
But that’s so typical of all the things I am
Of all the things I am
Sometimes I’m miserable
Sometimes I’m pitiful
But that’s so typical of all the things I am
Of all the things I am

Natta’s On Tour De Java

Posted in Sekedar Gunjingan, Sekedar Ngegosip, Sekedar Racauan on 26 November 2010 by Natta

Taraaaaaaa!!!
Hibernasi nya ga perlu lama-lama, soalnya tiba-tiba jadi ga tahan gitu buat posting-posting sesuatu… hahaha… Karena ada satu dan lain hal yang bikin semangat banget buat nulis dan aplot di sini. Biasalah banci tampil, rasanya ga sreg kalo lama ga being in the spotlight… fufufufu…

Jadi… ceritanya berawal waktu hari Jumat tanggal 19 November kemaren, tta cabut capcuzz dari kantor (Istilah kerennya: PC, Pulang Cepat, kepotong tunjangan 1,25% deehh… damn you, rules!) mau TOUR DE JAVA.

Sebenernya karena ada temen deket di kantor –si Lany Lancheu– yang nikah, acaranya diadain di Wonogiri, Jawa Tengah. Karena dari Palangka Raya ini ga ada direct flight ke Solo (Bandara terdekat ke Wonogiri), jadi opsinya cuma terbang dulu ke Jakarta atau Surabaya.

Akhirnya kami Natta, Hendra, Ipung, sama Dicky pilih ke Surabaya karena ada Bos Marcel yang rumahnya di sonoh dan kebetulan lagi mudik juga (kalo si Bos ini mah rutin, paling ga 2 minggu sekali dia pulang bo’, Supervisor gitu loch!). Jadilah kami take-off dari Tjilik Riwut, Palangka Raya jam 9.15 WIB teng (tumben ini Sriwijaya tepat waktu, biasanya pasti ada delay nya) trus nyampe Juanda langsung naek taksi ke rumahnya Bos Marcel di bilangan Delta Sari Baru, Sidoarjo (dari Bandara cuma 10 menit gitu, ongkos taksinya 50 rebu ajah! Malak nih taksi! Untung supirnya cakep, kalo ga guwe kentutin dulu duitnya!).

Beres Sholat Jumat –masih Jumatan, tta? Puji Syukur…– kami langsung cabut jalan. Selama di jalanlah kami mengalami yang namanya Culture Shock! Terheran-heran dengan banyaknya kendaraan bermotor, gedung-gedung bertingkat yang merajalela, lampu merah tersebar dimana-mana… –Oke, itu lebay, tapi seru! :p– Mobil pun meluncur ke arah Stasiun Gubeng, buat kami beli tiket kereta api.

Iyaaahh… kereta api… sepur… train… tut tut tut… booo’… It’s like almost 8 years sejak terakhir kali tta naek kereta waktu jaman SMA dulu…. Kangeeeeennn…..

Beli tiket kereta Bima, mehong bengek, satu kursinya dihargai 140 rebu sajah. Maklumlah kereta eksekutip. Makanya kemaren waktu @sheviona nanya kereta yang nyenggol Jogja dan sekitarnya, tta masih inget kereta apa aja…. hihihihi… Tujuan kami ke Jogja. Kenapa ke sana??? Karena gw ama Ipung mau nginep numpang di rumahnya Dicky dulu, kalo si Hendra mah rumahnya di daerah Prambanan, perbatasan Jogja ama Klaten, jadi deket.

Kelar dari Gubeng, kami pergi makan siang ke Tunjungan Plaza.

Iyaahhh… Tunjungan Plaza yang ituuu… Mall yang paling terkenal se-seantero kota Surabaya karena berjejer dari Tunjungan Plaza I sampe Tunjungan Plaza IV. Terakhir ke sana itu inget banget tahun 2004, beberapa hari setelah UAN gitu deh… Nonton pelem Harry Potter and The Prisoner of Azkaban kalo ga salah. Kangeeeennnnnnnn….

Cabut dari TP, kita langsung balik ke Stasiun Gubeng, jadwal keretanya jam 5 sore. Rencana nyampe Jogja jam setengah 11 malem, ternyata tepat aja donk… Salut deh ama pelayanan kereta ini. Sampe sana (aku lupa nama Stasiun Jogja apa sih?) rombongan kami dijemput Mas Ponco, temennya Dicky. Kalau Hendra langsung pulang ke rumahnya dijemput adeknya. Ternyata rumahnya Dicky di daerah Wates, yahh… lumayan lah setengah jam-an naek mobil dari pusat kota Jogja. Sampe rumah, salim sana salim sini, incip sana incip sini, mandi, gosok sana gosok sini, trus langsung tepar aja doonkkk…. –Lelaahhh… lelah tubuh ini… (berasa abis diperkaos deh)–

Dasar emang Natta ga tau malu, udah numpang di rumah orang, ngabisin banyak makanan, bangun siang pula!!! Di mana si Om ama Tante ama Dian –adeknya Dicky– udah pada cabut kerja, tta baru bangun. Lebih ga tau malunya lagi, langsung nyomot roti bakar sama nenggak teh anget. –enak bow–

Alhasil baru jam 11 lewat kita cabut dari rumah. Rencananya adalah ngajak jalan-jalan Ipung yang baru-kali-ini-seumur-hidupnya-menginjakkan-kaki-di-Jogjakarta. Jadi kita mau ajak ke Candi Prambanan dulu. kita telponlah si Hendra supaya gabung. Dengan niat ngajak dia supaya bisa jadi guide yang baek dan benar –secara rumahnya cuma 5 menit aja naek motor dari lokasi wisata–, ternyata pada akhirnya guwe aja donk yang jadi guide. Secara setelah di-survey, ternyata guwe yang ke Prambanan dalam medio waktu terdekat –terakhir ke Prambanan tahun 2007–

Berikut hasil penerawangan kami berempat selama di lokasi wisata Candi Prambanan:

Prambanan Saksi Narsis. Model: Natta - Hendra - Ipung - Dicky

Prambanan Saksi Narsis. Model: Natta - Hendra - Ipung - Dicky

Dan seperti yang telah tta bilang di Twitter sebelomnya, poto ini adalah hasil karya Photoshop pertamakuuu!!!!!!
–sujud sukur cium tanah
—maunya sih cium si “anu” *ditabok*
—–langsung goyang kayang gurita pantura patah patah *nah lho?*

Beres dari Prambanan, langsung laper booo… akhirnya nyari makan di Waroeng Steak (jauh2 ke Jogja, makannya steak juga… cih!!) dilanjut nyenyong di Inul Vizta (teteeuupp!!!) di daerah RingRoad. Kelar nyanyi, langsung nge-guide-in si Ipung lagi buat ngeliat Malioboro. Menuju ke sana, muter-muter dulu daerah Kampus UGM, nglewatin Mall Ambarukma, sama daerah apa gitu namanya lupa, tempat banyak warung-warung lesehan di pinggir jalan.

Dan seperti yang udah diperkirakan sebelomnya, Malioboro di malem minggu dah kayak JCC lagi ada pameran nasional dibarengi sama Wisuda STAN ajah…. Rame buanget. Rame nya pol. Langsung capcus ke tujuan, kita mau hunting batik di Mirota. Setelah masing-masing dapet incerannya, kami langsung cuzz cari makan lesehan. Pulang ampe rumahnya Dicky udah tepar aja langsung jam 12-an gituh.

Hari Minggunya, kami cabut ke Wonogiri, tempat resepsi si Lany ama Fitri. Secara acara dimulai jam 1, kita baru berangkat dari rumah jam 11. Ngejemput si Edi Trombosit dulu (sejak awal dia terpisah dari rombongan kami, dia berangkat lewat Jakarta, rumahnya di daerah Bantul). Bukannya langsung ke TKP, masih harus memuaskan hasrat belanja si Ipung –dan juga Natta– ke UGD, Unit Gawat Dagadu. Beres dari sana, napsu belanja masih kesisa, akhirnya ke daerah yang jualan oleh2 buat beli Bakpia Pathuk 25. Kami satu mobil itu ngeborong 20 kotak aja doongg…. Abis itu ngejemput Hendra di rumahnya, trus nungguin Mas Aryo yang dari Purworejo, supaya barengan ke Wonogiri nya.

Dan apa yang terjadi??? Taraaaa… nyampe di TKP udah hampir setengah empat. Pestanya udah mau bubaran. Untung masih sempet makan (Ini yang paling dicari, lapeerr boo’!!!), masih sempet pepotoan juga (pastinya!), tapi ga sempet memberikan persembahan lagu buat kedua mempelai.. —siyal semua itu orang-orang electone nya! Tau guwe dateng langsung diberes-beresin gitu aja dong perlengkapannya, sambil ngelirik-lirik gw. Pasti dalem hati mereka pada bilang: “Ayo cepet diberesin, si Banci Nyanyi Kondangan udah muncul tuh…”—

 

Inilah poto kedua mempelai yang gemblung:

Manten Gemblung: Lany - Fitri

Manten Gemblung: Lany - Fitri

 

Berikutnya, giliran para undangan yang ikutan gemblung:

Ketauan kan, kalo yang paling narsis ya yang punya blog ini.

Ketauan kan, kalo yang paling narsis ya yang punya blog ini.

 

Dikerjain ama manten. Katanya biar guwe cepetan nyusul nikah. Khe?

Dikerjain ama manten. Katanya biar guwe cepetan nyusul nikah. Khe?

 

Salam-salam selesai, kasih ucapan selamat udah, pepotoan narsis juga beres, rombongan kami langsung cabut ke Solo, dengan tambahan personel Bongky. Sampe Solo pas banget waktu maghrib, kami sholat dulu, trus dilanjut makan nasi liwet. Muahahahaha…. akhirnya kesampaian juga makan ini langsung di tempat dia dilestarikan dan dibudidayakan. Natta makan sampe nambah 2 porsi. Yang pertama lauk ayam opor, yang kedua lauk telor –penting ya pake dijelasin?–

Siyal, muka guwe ketutupan tangan!

 

Beres makan, kita langsung naek Travel yang pake minibus Elf tujuan Surabaya. Harga tiketnya 95 ribu sajah. Dan tau ga pemirsah??? Selama ini yang kita tau, normalnya perjalanan darat dari Solo menuju Surabaya atau sebaliknya itu memakan waktu sekitar 7-8 jam, jika termasuk berhenti di rest area. Kali ini, rombongan kami yang berangkat dari Solo jam 9.30 malam, sampai di Ngawi jam 11.30, kemudian sampai di Surabaya sebelum jam 2.30 pagi.

GILA KAAANNN??????
Hemat berapa jam coba itu????

Dan kami semua tidur aja donk selama di jalan, begitu nyampe di gerbang perumahannya Bos Marcel, cuma bisa bengong waktu dibangunin sama supir travelnya supaya kita nunjukin jalan. Belom balik bo’ nyawanya!

Singkat kata setelah narok barang, bersih-bersih, ngobrol-ngobrol bentar, kami tepar lagi. Besoknya bangun jam 9-an, trus siap-siap ke bandara. Pesawat Batavia buat balik ke hutan take-off jam 1 siang. Dan lagi-lagi on-schedule! Sungguh kejadian yang tak terduga, seakan segala urusan kami selama perjalanan dipermudah oleh Tuhan. Akhirnya nyampe di Palangka jam 3 sore. Langsung ngantor. Daannn dengan begitu resmi kami semua kembali ke realita.

Sampai Jumpa Lagi, Jawa!
Loph Yu Pul, deh…

P.S. Tulisan ini didedikasikan untuk Mpok @okitya yang telah memberikan tutorial singkat mengenai dunia pereditan photoshop. Dan juga kepada @gerandis yang blog nya telah menginspirasi saya untuk bangun dari hibernasi dan belajar sedikit photoshop. tanpa kalian, tulisan ini tak akan eksis. Muachhh…..

Vacuum of (Bitch) Power

Posted in Sekedar Racauan on 15 November 2010 by Natta

Sedang tidur musim dingin.

Akan bangun dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan saat ini.
(*Bukan nunggu yang Dipertuan Agung ngejemput
pake kuda putih, kok. Tenang aja.)

Saya (tidak) Baik Baik Saja (untuk saat ini)

Posted in Sekedar Curhatan on 20 Oktober 2010 by Natta

Bohong kalau saya bilang saya ga sedih. Dusta kalau saya bilang saya baik-baik saja. Setidaknya saya tau, untuk kali ini, ketika saya mencoba menulis postingan ini, saya tidak baik-baik saja. Saya perlu dukungan moral untuk bisa tetap berdiri.

Beberapa jam sebelumnya, dengan keadaan gelisah yang hebat, saya tetap berusaha optimis. Itu yang saya tekankan pada diri saya, sampai saya berani bilang ke seorang sahabat: “Kabar baik besok, guwa janji elu adalah orang pertama yang akan guwa hubungi.”

Entah itu suatu bentuk optimis, atau takabur, saya sendiri tak yakin pasti.

Ternyata Tuhan punya skenario lain untuk saya.

Saya dinyatakan tidak lulus.

Marah, sedih, kecewa, galau, takut, malu, khawatir, semua bercampur jadi satu dibenak saya ketika selesai membaca beberapa halaman keputusan itu. Tepat di halaman seharusnya saya bisa menemukan nama saya,  nihil.

Saya kalut.

Saya berusaha menelpon sahabat saya dan juga ayah saya. Panggilan saya tidak dijawab keduanya, bahkan setelah berulang kali dicoba.

Toilet kantor pun jadi saksi bisu sengguk dan isak yang tak terbendung.

Saya pun mencoba tenang setelah beberapa saat. Tak mudah bagi saya mengucapkan selamat kepada mereka yang berbahagia. Padahal mereka teman saya, sahabat saya, tapi sungguh itu berat. Sebenernya saya pun ikut senang atas keberhasilan mereka. Tapi rasa sedih mengalahkan semua itu. Saya masih belum bisa ikhlas.

Tetap saya coba juga. Beberapa tweet yang saya kira tak akan terbaca rancu ternyata tidak mampu mengelabui mata jeli beberapa sahabat saya. Ada yang bilang: “Dalam tweet-tweet ceriamu, terlihat sekali betapa dirimu begitu bersedih.”

Well, dia seratus persen benar.

Saya sedih. Tapi saya ga ingin orang-orang tau betapa sedihnya saya menghadapi ini semua. Saya ga pengen orang-orang kasihan atau iba melihat kegagalan saya. Saya ga pengen dinilai lemah. Cukup kepada beberapa sahabat saja saya sanggup menangis di depannya. Ini juga berat saya lakukan karena saya ga pengen mereka ikut bersedih atas saya. Saya berusaha terlihat dan terdengar tegar. Tuhan tau saya tidak sekuat itu, untuk itulah saya bersyukur karena Tuhan memberi saya sahabat-sahabat yang luar biasa.

Saya gagal, itu kenyataan pahit yang harus saya terima.

Untuk saat ini, biarkanlah saya bermuram durja, mengharu biru sampai banjir air mata. Tapi tenanglah, kalau kalian kenal dengan baik siapa saya, kalian tau bahwa saya akan baik-baik saja dalam waktu yang tidak lama.

Rindu Setengah Mati

Posted in Sekedar Curhatan on 12 Juli 2010 by Natta

Kalau saya ditanya siapa yang paling ingin saya temui saat ini, saya hanya akan menjawab satu nama saja. Seorang wanita yang selalu mampu membuat saya bangun pagi, dengan teriakannya, cubitannya, atau dengan cipratan air di muka saya. Bahkan kalau saya lagi bandel-bandelnya ga mau bangun, beliau bisa mendaratkan pukulan lalat ke kaki saya sampai saya mau bangun.

Seorang wanita yang melarang saya nonton televisi saat hari sekolah, dan membatasinya sampai jam 11 siang di hari Minggu. Wanita yang menemani saya mengaji tiap Maghrib walau hanya satu halaman. Wanita yang bertanya apakah saya sudah mengerjakan PR, sudah siap untuk ulangan untuk besok, dan sudah menyiapkan buku pelajaran yang harus dibawa besok.

Wanita yang selalu menyuruh saya ini-itu sendirian karena saya anak tunggal. Belanja ke warung, sapu halaman, nyiram bunga, ngepel rumah, anterin ini-itu ke tetangga, dan hal-hal lainnya yang sepele tapi membuat saya kesel, dan sekarang saya benar-benar rindu ingin disuruh-suruh.

Wanita yang marah dan memasang muka seram dan sanggup menceramahi saya dalam hitungan jam kalau saya ga dapet ranking di kelas, atau karena nilai ulangan saya ga dapet 90 ke atas. Dan bahkan beliau masih bereaksi sama ketika tau IP saya dua koma sekian. Yang mana kita semua tau IP itu di dapat di bangku kuliah.

Wanita yang sanggup membuat saya menangis karena selalu dibanding-bandingkan dengan sepupu-sepupu saya, Kata beliau “Coba contoh abang/kakak itu, anaknya baik budi, nurut sama orang tua, sholatnya rajin, sekolahnya pinter.” Bahkan lebih lagi, beliau sering membandingkan saya dengan anak-anak tetangga yang lain, yang menurut beliau lebih baik dari saya.

Wanita yang melarang saya menekuni hobi saya. Katanya menyanyi ga akan menghasilkan apa-apa. Menyanyi ga akan bikin saya dapet ranking. Menyanyi ga akan bikin saya jadi orang yang lebih baik. Katanya “Mau jadi apa kamu?”. Beliau melarang saya untuk ikut ekskul Paduan Suara. Tidak merestui keikutsertaan saya di ajang dan lomba menyanyi manapun, bahkan ke untuk ikut PORSENI dan sampai akhirnya saya tetep keukeuh dan diam-diam mengikuti semuanya. Saat tau, beliau mencemooh saya karena kelompok Paduan Suara saya hanya meraih juara III di PORSENI tersebut .

Wanita yang saya tau, dalam setiap tarikan dan hembusan nafasnya, dalam setiap denyut nadinya, dalam setiap kedip matanya, dalam setiap langkah kakinya, dalam setiap bangunnya di penghujung pagi, dalam setiap puasa sunahnya yang tak pernah luput, dalam setiap lantunannya ketika beliau mengaji, adalah doa yang selalu dia curahkan untuk saya.

Wanita yang saya tau, sanggup melakukan apapun, saya ulangi, APAPUN, demi anaknya, saya.

Tuhan, saya rindu mama saya.

To Put Aside Pride and Self-Esteem

Posted in Sekedar Curhatan, Sekedar Racauan on 5 Juli 2010 by Natta

Saya sangat tau bagaimana beratnya untuk meminta maaf lebih dulu. Apalagi jika permohonan maaf yang akan disampaikan adalah atas suatu kejadian yang saya tau persis bukan murni kesalahan saya sepihak. Bukan cuma kesalahan saya semata yang membuat sahabat-sahabat saya mendelik seakan memberi kode “Ya, kau salah, dan kewajibanmu adalah meminta maaf secepatnya”.

Bukan seperti itu kejadiannya.

Saya sudah sering terlibat dengan naskah yang seperti ini. Dan yah, dengan pemeran utama lainnya yang sama pula. Dan kejadian seperti ini bukan hanya telah berulang sekali-dua kali, sampai saya hapal betul urutan skenarionya yang berujung pada ke-mengalah-an saya demi kemaslahatan bersama. Setidaknya itu yang dibisikkan sahabat saya setelah saya berusaha menolak dan luluh juga pada akhirnya.

Yap, saya mengalah.

Saya kesampingkan ego saya yang begitu besarnya, yang berteriak bahwa ini semua bukan menjadi tanggungjawab saya sehingga saya harus mengulurkan tangan lebih dulu.

Saya kesampingkan gengsi saya yang begitu besarnya, yang meraung berkata bahwa ini seharusnya bukan saya yang berujar “maaf” lebih dulu sambil memasang muka menyesal, berjanji tak akan mengulangi lagi, kemudian menghampiri untuk memeluk lembut seraya meneteskan air mata yang mana hal itu sangat mudah saya lakukan. –I can cry on demand, it’s one of my many talents. I’m very versatile and aside from nudity and exploitation of animals, I’ll pretty much do anything to break into the business (Rachel Berry – Glee Season 1 Episode 12)

Terkejut?

Saya sendiri begitu terpesona dengan perilaku ajaib saya yang satu ini. Bagaimana mungkin seorang Natta yang dikenal egosentris, suka semau sendiri, individualis, perfeksionis, perspektif, ramah, tekun belajar, dan giat menabung ini mampu MENAHAN DIRI untuk mengesampingkan apa itu yang namanya pride and self-esteem, hanya untuk merendahkan diri di depan orang itu?????

Now, please give me at least two good reasons for that!!!!!!!!!

–meledakkk

And now, I guess it is the perfect time to say ENOUGH to the script, for making me such a very cute and good and gentle person who always says sorry to anything I have done, right or wrong. Now it’s time for me to take the lead, to take control, to rule the movie, to be in the evil side.

I want the antagonist cast, so be it.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.